Madrasah Pertamaku, “Ibu”

Oleh: Muhamad Abdul Rofi’ulmuiz

dakwatuna.com - Berbicara tentang peran ibu kembali mengingatkanku ketika awal di mana aku harus tinggal jauh dari kedua orang tuaku. Ketika itu usiaku menginjak umur 12 tahun dan baru akan memulai hidup baru yang tentunya berbeda dengan kehidupan sebelumnya yaitu masuk pondok pesantren Husnul Khotimah di Kuningan. Cukup jauh dirasa ketika itu karena harus menempuh waktu perjalanan kurang lebih 3 jam. Ketika itu, pada masa POS-HK (MOS), ada momen yang sengaja dibuat oleh panitia agar semua santri baru mengingat ibunya, perjuangannya, pengorbanannya, dan hal lainnya yang membuat semua santri mencucurkan air mata. Adalah melalui sebuah lagu yang kami nyanyikan bersama dengan penuh pemaknaan disertai kerinduan yang amat sangat dirasakan oleh kami pada sosok ibu.

Pada bagian lirik lagu itu dikatakan bahwa “sedari kecil hingga dewasa, ibu menjaga, membelai penuh manja”. Sebuah gambaran yang menunjukkan betapa besarnya peran seorang ibu pada anaknya dalam berbagai aspek kehidupan. Ketika dalam kandungan, sembilan bulan lamanya seorang anak diasuh, dirawat dengan penuh perhatian dan kehati-hatian. Ketika sedang mengandung seorang ibu senantiasa menjaga sikap, emosi, makanan, kesehatan dan hal lainnya. Semua itu dilakukan karena seorang ibu tidak ingin anak yang sedang dikandungnya mendapat dampak buruk dari kecerobohan yang dilakukan.

Dalam bersikap seorang ibu yang sedang hamil terlihat lebih santun dan sabar, hal itu dikarenakan sang ibu pun sadar bahwa sejak dalam kandungan dia sudah mulai mendidik anaknya. Di saat sang ibu marah, anak yang dalam kandungan pun akan merespon marah tersebut dan berdampak tak baik bagi perkembangan otak anak. Demikian juga saat sang ibu membaca Al-Quran, maka anak dalam kandungan pun meresponnya dengan baik dan membentuk sifat yang baik pula. Kalangan ahli kedokteran dan ilmu jiwa menyarankan agar mendidik anak diawali dari saat dalam kandungan. Maka tidaklah salah jika seorang ibu merupakan madrasah pertama bagi anaknya.

Menjadi sosok mulia penuh cinta, seorang ibu menjadi tumpuan utama dalam mencetak generasi tangguh, cerdas dan berakhlak mulia yang akan memunculkan sebuah harapan untuk memimpin umat ini di masa yang akan datang. Sebagai madrasah yang tentunya akan banyak ilmu yang disampaikan dan diajarkan, seorang ibu haruslah memiliki wawasan keilmuan yang luas. Di sanalah seorang anak pertama kali belajar bersikap, belajar mengenal Tuhannya, belajar mengenal apa yang ada di sekitarnya, semuanya berawal di madrasah itu. Ibu sebagai lembaga pendidikan tentunya harus dipersiapkan dengan baik. Seperti kutipan dari perkataan Ahmad Syauqi bahwa,“Seorang wanita (ibu) adalah lembaga pendidikan, yang jika ia benar-benar mempersiapkan dirinya, berarti  ia telah mempersiapkan sebuah generasi  yang benar-benar digdaya”. Maka wajiblah jika seperti itu kepada seluruh wanita untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Tanpa ilmu dan pemahaman yang benar mungkin generasi tangguh, cerdas, dan berakhlak mulia tidak akan pernah terwujud selama-lamanya.

Namun saat ditengok pada realita yang ada, masih banyak para wanita yang tidak menganggap penting sebuah pendidikan bagi dirinya. Mereka berpendapat, ”buat apa sekolah tinggi-tinggi toh kalo nantinya cuma jadi ibu rumah tangga?” atau ada juga mereka yang bersemangat mengejar gelar pendidikan setinggi-tingginya namun dengan tujuan hanya untuk kepentingan karirnya saja. Sehingga ketika punya anak dia dengan sangat mudah mengalihkan fungsi ibu yang seharusnya diperankan olehnya kepada pembantu yang biasanya tidak begitu diperhatikan latar belakang pendidikannya, oleh karena itu waktu untuk anak pun sangatlah terbatas bahkan mungkin tidak ada. Tidak aneh jadinya ketika melihat seorang anak yang sangat sulit untuk diarahkan atau bahkan terjerumus dalam pergaulan bebas yang menghancurkan masa depannya. Hal itu menjadi salah satu akibat kurangnya kasih sayang yang diberikan kedua orangtua khususnya dari seorang ibu.

Hmm… sungguh disayangkan sekali realita yang terjadi saat ini, ketidakpahaman yang berujung pada kesalahpahaman dalam memandang pendidikan berimbas pada nasib generasi masa depan.

Ketahuilah wahai para wanita, sungguh derajat muliamu sudah ditinggikan posisinya oleh Allah SWT, seperti dalam hadits Nabi Muhammad SAW, Dari Abu Hurairah berkata: “Datang seseorang kepada Rasulullah lalu bertanya: Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak untuk saya berbuat baik padanya? Rasulullah menjawab: Ibumu, Dia bertanya lagi: Lalu siapa? Rasulullah menjawab: Ibumu, dia bertanya lagi: Lalu siapa? Rasulullah kembali menjawab: Ibumu, lalu dia bertanya lagi: Lalu siapa? Rasulullah menjawab: Bapakmu.”(HR. Bukhari: 5971, Muslim: 2548)Mulianya engkau hingga diulang tiga kali Nabi Muhammad SAW menyebutmu sebelum akhirnya ayah setelah itu.

Saudariku yang insya Allah di kemudian hari kan menjadi seorang ibu, menjadi ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan rendahan bahkan hina. Sungguh itulah pekerjaan muliamu yang membuka peluang bagimu mendulang pahala sebagai tabungan akhiratmu. Dengannya engkau dapat memberikan kontribusi nyata dalam mencetak generasi tangguh, cerdas, dan berakhlak mulia bagi bangsa juga agama. Ilmu yang engkau dapatkan dari pendidikan formal sampai tingkat tertinggi pun tak akan menjadi sebuah kesia-sian karena dengannya engkau dapat berbagi dengan anakmu kelak sehingga dia menjadi sosok unggul di masa depannya. Mulia dan sangatlah berarti peran seorang ibu.

Untuk mengakhiri, ingin kusampaikan bahwa tanpamu (ibu) mungkin tak bisa ku menulis sepanjang ini, tak bisa ku mengenal Allah SWT sebagai Tuhanku seperti sekarang ini. Engkaulah yang pertama kali mengenalkan semua itu padaku, kau ajarkan dengan kesabaranmu. Ibu, sungguh kau lah madrasah pertama bagiku.

Sedikit ku selipkan lagu indah pada penutup tulisan ini tentang sosok ibu untuk mengingat akan jasa-jasanya dan sebagai penawar rasa rindu padanya.

Kasihnya Ibu

Kasihnya ibu tulus sejati
Seperti rasul. taatnya pada ilahi
Ikhlas suci kekal abadi
Kasihnya tak dapat ditukar ganti

Sedari kecil, hingga dewasa
Ibu menjaga, membelai penuh manja
Sabar tanpa penat dan lelah
Karena kewajiban dan amanah

Kini engkau telah dewasa
Hati ibu mesti dijaga
Jangan jadi anak durhaka
Kasihnya ibu membawa ke surga.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/04/12/31148/madrasah-pertamaku-ibu/#ixzz2QptrUDYp
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s